Kamis, 03 November 2016

UNE MEMOIRE DE LUI (1)


Sebelumnya, aku ingin menceritakan betapa bahagianya aku dulu ketika bersamanya.

aku senang, sangat senang menceritakan bagaimana bahagianya aku ketika bersamamu, sampai pada titik ketika aku menyadari kalau semuanya tak akan pernah kembali seperti saat itu lagi..
ini akan membutuhkan banyak airmata ketika aku berusaha mengingat apa yang kurasakan, bagaimana keadaan yang telah terjadi, serta memutar ulang semua memori itu, tapi tak apa. Aku sengaja melakukan hal ini, aku sengaja ingin mengabadikan memori ini, agar jika suatu saat aku bisa lupa akan adanya dirimu, atau aku lupa pernah bahagia, aku bisa membaca kembali cerita ini.

aku bingung harus menceritakan bagian yang mana lebih dulu, mungkin lebih baik aku menceritakan kedua kalinya kita bertemu

sore itu, seperti biasa saat aku hanya berdiam diri di rumah bibiku, aku menyapa kamu dengan harapan kita akan bertemu, aku tak menganggap kamu adalah orang yang mendekatiku atau apapun itu, aku hanya berharap kita bertemu selayaknya teman. malamnya kamu menjemputku setelah aku memberi koordinat peta rumahku, kamu nyasar waktu itu dan aku mengarahkanmu.

di perjalanan, kamu mengatakan kalau kita akan datang ke sebuah pameran yang terletak di pasar yang memiliki ruang untuk pameran kesenian. tiwgnaC. kita mampir dulu ke kantin kampus kamu karena temen-temen kamu disana, ketika sampai aku merasa aneh sekali karena baru pertama kalinya aku dibawa oleh orang yang bahkan belum aku kenal dengan baik, untuk menemui teman-temannya. kita akhirnya konvoy untuk menuju pameran itu, kamu sempat mengatakan "ya ginilah anak seni" dan aku memakluminya. kita nyasar ketika di perjalanan menuju kesana. sampai di pameran itu, tetapi kita cuma sebentar saja disana, oiya kita juga sempat mengabadikan moment itu, dan bahkan aku ikut serta didalam foto yang bahkan aku tidak mengenal satupun selain kamu.

ketika berpindah ke pameran lainnya, yang berada di pusat kotamu, aku ingat di beberapa karya, aku menanyakan maksud karya itu padamu tetapi kamu tidak mengerti maksudnya dan aku bingung mengapa kamu tidak mengerti maksudnya sedangkan kamu adalah anak seni. kita sempat mengabadikan moment disana, aku meminta temanmu untuk mengambil foto kita berdua, dan aku baru menyadari bahwa foto itu adalah foto pertama kita. aku ingat sekali kamu ingin memberiku sticker love yang memang disediakan, lalu aku justru mengambilnya sendiri tanpa mengambil pemberianmu. di tempat kedua itu, aku melakukan wawancara kepada pemiliknya untuk keperluan tugas kuliahku yang memang saat ini justru aku sukai pekerjaan itu. setelah selesai melihat-lihat pameran, kita duduk-duduk di meja kayu yang memiliki payung dan kamu menawarkanku rokok tetapi aku awalnya tidak mau, lalu kamu mengambil satu batang dan memencet iceballnya di telingaku sambil tertawa, kemudian aku mengatakan kalau aku tidak ingin terlihat sedang merokok, lalu kamu menutupiku dengan badanmu. ketika ingin pindah tempat ke gerobak makan pinggir jalan, aku menemanimu untuk mengambil uang di atm.

saat sampai di tempat makan itu, kalau tidak salah namanya nahajaG, aku makan juga yang pada awalnya aku tidak ingin makan, kita bercerita bersama teman-temanmu, aku juga ingat sekali bahwa aku mengatakan "ada kecoak" di dekat kakimu dan kamu langsung berdiri, berteriak, dan berlari untuk menghindari kecoak tersebut sementara tidak denganku. disitu aku tertawa sangat bahagia, apalagi ketika diceritakan ke-lenjehanmu oleh teman-temanmu aku benar benar tertawa lepas. se-cabe itu. benar-benar tertawa bahagia, dan kamu melihatnya. disitu kalau tidak salah, salah satu temanmu mengatakan ya tidak apa-apa biar dia tau kamu kaya gimana, kalau masih mau ya silahkan. disitu aku merasa aneh, karena bahkan aku tidak merasa kamu sedang mendekatiku atau kita adalah dua orang yang sedang pdkt. disitu aku sudah menjadi diriku sendiri, aku tidak menutup-nutupi apapun kekuranganku karena aku tidak merasa ada hal yang harus aku tutupi ketika aku bersamamu. ketika melihat jam sudah menunjukan pukul 11, aku memintamu untuk mengantarku pulang dan kamu mengiyakannya. ketika aku bertanya apakah kamu akan kembali bersama teman-temanmu, kamu mengatakan tidak, langsung pulang saja.

di jalan pulang, aku sempat menanyakan beberapa hal kepadamu, seperti nama ibumu siapa, lalu kamu menjelaskannya. hal itu aku lakukan karena pamanku ingin tau, ia juga orang dalam. dijalan. ketika kamu dan aku sudah menjadi kita secara resmi, kamu sempat bilang "waktu itu kan padahal di jalan kamu udah aku (meragain) (memegang dengkul) dan aku sama sekali tidak mengingat hal itu, yang kutau kita disitu ngobrol banyak tetapi aku lupa apa saja.

sesampainya dirumah, kamu mengirimkan foto kita tadi, dan aku baru menyadari bahwa tangan yang kita lakukan sama, dan senyum yang kita lakukan juga sama, meskipun kita tidak janjian melakukannya, kamu juga baru menyadarinya disaat itu. setelahnya kita masih terus berkomunikasi tetapi seperti biasa kamu membalasnya dengan tidak intens, sampai ketika..

ketika aku menuliskan ini, aku tidak menangis, hanya saja ketika di akhir cerita aku menyadari bahwa kita tak akan mungkin dan tak akan bisa menjadi seperti cerita ini lagi, air mataku luruh seketika.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar